El Niño Terkuat dalam Rekor: Dampak Cuaca Global Sudah Terasa
El Niño terkuat dalam rekor tercatat sebelum puncak. Suhu Pasifik 3,05C di atas normal, dampak kebakaran, kekeringan, dan banjir sudah terasa di berbagai negara.
El Niño yang sedang berkembang kini ditetapkan sebagai El Niño terkuat dalam rekor pengamatan modern. Yang membuat situasi ini patut diperhatikan: puncak intensitasnya diperkirakan baru terjadi beberapa minggu lagi, namun dampak cuacanya sudah mulai dirasakan di berbagai belahan dunia.
Bagi pembaca di Indonesia, berita ini bukan sekadar angka di atas kertas. Kementerian Kesehatan melaporkan kebakaran hutan yang dipicu oleh El Niño sudah memengaruhi sekitar 12,5 juta orang di seluruh negeri. Sementara wilayah lain bersiap menghadapi banjir atau badai, memahami data di balik klaim rekor ini membantu menilai seberapa serius persiapan yang perlu dilakukan.
Rekor Baru pada Suhu Permukaan Laut
Data utama yang memicu peringatan ini berasal dari pengukuran harian suhu permukaan laut di wilayah kunci Pasifik tengah-timur. Pada 19 September, suhu di wilayah tersebut tercatat 3,05 derajat Celsius di atas rata-rata jangka panjang.
Angka ini melampaui rekor sebelumnya sebesar 3,02 derajat Celsius yang ditetapkan selama peristiwa El Niño sangat kuat pada 2015. Selisihnya memang terlihat kecil, tetapi dalam konteks pemantauan iklim, melampaui rekor dari peristiwa sekuat 2015 adalah sinyal yang signifikan.
Para ilmuwan yang memantau suhu Samudra Pasifik menegaskan bahwa energi panas yang tersimpan di lautan saat ini sangat besar. Kenaikan suhu harian yang konsisten menjadi indikator awal bahwa fenomena ini berbeda dari rata-rata peristiwa El Niño sebelumnya.
Dua Cara Ilmuwan Mengukur Kekuatan El Niño
Tidak semua indikator menunjukkan angka yang sama. Ada beberapa ukuran El Niño jangka panjang yang belum mencapai level rekor pada saat pengukuran harian ini diambil. Namun, para peneliti memperkirakan kondisi ini akan berubah seiring berjalannya waktu karena puncak fenomena belum diharapkan hingga akhir tahun ini.
Memahami kekuatan El Niño memerlukan perhatian pada metode pengukurannya karena tidak ada satu standar tunggal yang digunakan secara universal:
- Oceanic Niño Index (ONI). Rekor yang baru saja pecah berkaitan dengan pengukuran harian suhu permukaan laut dibandingkan rata-rata historis jangka panjang.
- Relative Oceanic Niño Index (RONI). Banyak ilmuwan, termasuk peramal di Amerika Serikat dan Australia, mempertimbangkan ukuran alternatif ini. RONI mengukur seberapa hangat wilayah kunci El Niño relatif terhadap seluruh samudra tropis, sehingga memperhitungkan pemanasan latar belakang akibat perubahan iklim.
Berdasarkan indeks RONI, El Niño saat ini belum menjadi pemecah rekor karena suhu laut global secara umum juga sedang tinggi. Akan tetapi, kemungkinan pengumuman tambahan akan menyusul dalam beberapa pekan ke depan jika tren pemanasan di wilayah kunci terus berlanjut lebih cepat daripada wilayah tropis lainnya.
Deklarasi El Niño sendiri muncul ketika suhu di wilayah kunci Pasifik secara konsisten berada 0,5 derajat Celsius di atas normal. Ambang batas ini adalah gerbang masuk untuk menyatakan bahwa fenomena tersebut sedang aktif.
Mekanisme Pemanasan dan Peringatan Dini
Secara alami, El Niño adalah pola iklim yang terjadi sekitar setiap dua hingga tujuh tahun sekali dan cenderung berlangsung selama sekitar satu tahun. Mekanisme utamanya melibatkan angin pasat yang biasanya bertiup dari timur ke barat melintasi Samudra Pasifik.
Ketika angin ini melemah atau bahkan berbalik arah, air hangat dapat menyebar ke arah timur. Panas kemudian dilepaskan dari lautan ke atmosfer. Proses inilah yang dapat meningkatkan suhu global dan mendorong perubahan pola cuaca di seluruh dunia.
"Kami telah memberi sinyal selama berbulan-bulan bahwa El Niño yang berkembang akan menjadi peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya," kata Professor Adam Scaife, Kepala Prediksi Jangka Panjang di Met Office.
Menurut Professor Scaife, fakta bahwa fenomena ini sudah melampaui rekor sebelumnya dengan sisa beberapa minggu sebelum mencapai puncak menunjukkan besarnya skala El Niño kali ini.
Dampak yang Sudah Tercatat di Berbagai Wilayah
Kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya tidak serta-merta menjamin dampak cuaca yang belum pernah terjadi sebelumnya pula. Setiap El Niño bersifat berbeda, sehingga dampak pada pola cuaca global tidak dijamin sama persis antar peristiwa.
Para ilmuwan masih menilai apakah dampaknya akan sebanding dengan besarnya fenomena. Namun, efek yang diharapkan sudah terlihat di seluruh dunia. El Niño meningkatkan peluang badai dan banjir di beberapa wilayah, sekaligus meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan di wilayah lain.
Beberapa dampak spesifik sudah terdata:
- India. Tahun-tahun El Niño cenderung membawa curah hujan monsun di bawah rata-rata. Statistik dari India Meteorological Department menunjukkan bahwa hingga 22 September, monsun barat daya telah membawa hujan 15 persen lebih sedikit dari normal.
- Atlantik. Aktivitas badai berkurang akibat perubahan pola angin di ketinggian atmosfer. Sepanjang 2026, belum ada badai Atlantik yang terbentuk. Ini menetapkan rekor baru untuk tanggal terbaru tanpa pembentukan badai sejak pemantauan satelit terhadap badai dimulai.
- Risiko banjir. Meningkat di bagian pesisir Ekuador, Peru, dan Amerika Serikat bagian selatan.
- Risiko kekeringan dan kebakaran. Meningkat di Brasil, Australia, dan Indonesia.
Gangguan cuaca ini dapat memberikan efek beruntun yang signifikan terhadap hasil panen, ketahanan pangan, dan ekonomi di seluruh globe. Dampaknya tidak berhenti pada cuaca ekstrem semata, tetapi merambat ke sektor-sektor yang menopang kehidupan sehari-hari.
Situasi Indonesia dan Eropa Barat Laut
Khusus untuk Indonesia, angka 12,5 juta orang yang terdampak kebakaran hutan menunjukkan bahwa dampak kesehatan dan sosial dari fenomena iklim ini sudah berlangsung nyata, bukan sekadar proyeksi masa depan.
Sementara itu, dampak di Inggris dan Eropa Barat cenderung kurang jelas karena jaraknya yang ribuan mil dari Pasifik tropis. Meskipun demikian, fenomena ini membawa peluang meningkatnya kondisi basah dan berbadai di Eropa barat laut selama akhir musim gugur dan awal musim dingin.
Sebuah prakiraan yang dirilis Met Office pada musim gugur ini menyatakan bahwa sudah ada indikasi terkait kondisi tersebut yang perlu diwaspadai oleh penduduk wilayah itu.
Dengan puncak fenomena yang masih beberapa minggu lagi, masyarakat global perlu mempersiapkan variabilitas cuaca yang lebih ekstrem. Para peneliti akan terus memantau apakah rekor harian ini akan diikuti oleh rekor pada ukuran jangka panjang dalam waktu dekat.
Kesiapan terhadap potensi gangguan pangan dan bencana hidrometeorologi menjadi langkah praktis paling relevan bagi wilayah yang berada dalam jalur dampak langsung El Niño. Bagi wilayah lain, memantau perkembangan data bulanan tetap menjadi cara terbaik untuk mengikuti evolusi fenomena ini.
Sumber & Referensi
Referensi berikut digunakan sebagai bahan fakta/rujukan. Artikel disusun kembali secara editorial dan tidak dimaksudkan sebagai salinan sumber.
